Karangtengah — Kalau ada satu kegiatan yang sukses bikin anak kelas 10 SMAN 1 Karangtengah susah move on, jawabannya mungkin adalah Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusa) 2026!

Selama dua hari satu malam, tepatnya pada Jumat–Sabtu, 18–19 September 2026, halaman SMAN 1 Karangtengah mendadak berubah menjadi “kampung tenda” versi anak Pramuka. Tenda-tenda cokelat berdiri rapi, lengkap dengan segala keseruannya. Kegiatan yang wajib diikuti seluruh siswa kelas 10 ini bukan cuma soal tidur di tenda dan memakai seragam Pramuka. Di balik panasnya matahari, dinginnya malam, dan kaki yang pegal, ada banyak cerita, tawa, kekompakan, bahkan momen-momen random yang kemungkinan bakal terus diceritakan sampai lulus nanti. Seluruh rangkaian kegiatan juga didampingi oleh kakak-kakak Bantara dan Laksana yang siap siaga mengarahkan, mendampingi, sekaligus memastikan adik-adiknya tetap aman dan semangat.

Perjusa 2026 resmi dimulai pada Jumat sore melalui Upacara Pembukaan. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala SMAN 1 Karangtengah, Ibu Erna Setyawati, S.S., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau berpesan agar para peserta memanfaatkan Perjusa sebagai kesempatan untuk belajar mandiri, meningkatkan kedisiplinan, mempererat kebersamaan, serta tetap menikmati setiap prosesnya. Intinya, kegiatan Pramuka bukan cuma tentang baris-berbaris dan hafalan. Ada banyak pengalaman yang bisa dipelajari ketika kita keluar dari zona nyaman.

“Jadikan kegiatan ini sebagai wadah untuk melatih kedisiplinan, tetapi tetap bahagia.”

Kurang lebih begitu pesan yang terasa hangat dari Kak Erna sebelum kegiatan Perjusa resmi dimulai. Setelah itu, petualangan anak kelas 10 pun resmi dimulai!

Kalau ditanya acara apa yang paling ditunggu pada Jumat malam, jawabannya tentu saja: API UNGGUN!

Malam itu, suasana lapangan perlahan berubah. Api mulai menyala dan membesar, menerangi wajah-wajah peserta yang duduk melingkar. Udara malam yang dingin terasa lebih hangat karena kobaran api dan kebersamaan yang tercipta.

Ada momen untuk duduk tenang, menikmati suasana, dan merasakan bagaimana teman-teman yang mungkin sebelumnya belum terlalu dekat mulai terasa seperti satu keluarga.

Tapi… jangan salah.

Perjusa ini bukan sinetron episode terakhir. Jadi, suasana syahdu tidak berlangsung terlalu lama.

DARRR! Suara petasan memecah malam dan menghiasi langit Karangtengah. Cahaya warna-warni yang meledak di udara membuat suasana semakin meriah.
Malam yang awalnya kalem berubah menjadi:
“Wahhh… keren banget!”

Fix, momen api unggun malam itu sukses menjadi salah satu highlight Perjusa 2026.

Setelah suasana dibuat hangat oleh api unggun, saatnya masuk ke sesi yang tidak kalah ditunggu: Pentas Seni alias Pensi!

Di sinilah salah satu plot twist paling random dalam Perjusa 2026 terjadi.

Entah karena algoritma TikTok sedang kompak, entah karena semua kelas mendapatkan ilham dari sumber yang sama, atau jangan-jangan memang ada konspirasi tersembunyi…

HAMPIR SEMUA KELAS 10 MEMBAWAKAN DANCE BRAZIL!

Iya, benar.

Dari satu kelas ke kelas berikutnya, musik mulai dimainkan dan tiba-tiba…

“BRAZILLLL!”

Gerakannya pun punya vibes yang hampir sama. Kakak-kakak Bantara-Laksana yang mungkin awalnya sudah siap melihat berbagai macam konsep pertunjukan, akhirnya cuma bisa ketawa sambil bertanya-tanya:

“Kok bisa kompak banget, Dek?”

Tapi justru di situlah letak keseruannya.

Tidak ada yang terlalu memikirkan harus tampil sempurna. Semua menikmati momen, tertawa bersama, dan saling memberikan dukungan.

Pensi malam itu bukan cuma tentang siapa yang paling keren tampil, tetapi tentang bagaimana setiap kelas berani tampil, bekerja sama, dan menciptakan suasana yang pecah banget!

Kalau Jumat malam diisi dengan seni dan kebersamaan, maka Sabtu pagi waktunya menguji fisik, kekompakan, sekaligus kemampuan Pramuka.

Agenda selanjutnya adalah Jelajah Alam dengan rute melewati wilayah pedesaan Desa Karangtowo.

Matahari pagi menjelang siang mulai terasa semakin garang. Keringat? Jangan ditanya.

Tapi ternyata panas matahari tidak cukup kuat untuk mematikan semangat para peserta.

Sepanjang perjalanan, peserta harus melewati beberapa pos dengan tantangan yang berbeda-beda. Di sinilah kemampuan, kekompakan, dan kreativitas setiap sangga benar-benar diuji.

  • Pos Semaphore

Di pos ini, peserta diuji kemampuan berkomunikasi menggunakan bendera semaphore.

Ada yang kodenya terbaca dengan lancar.

Ada juga yang…

“Ini kode apa, Bang?”

Salah membaca sedikit saja, pesan bisa berubah total. Seru, sekaligus bikin otak ikut olahraga!

  • Pos Kimia

Namanya memang “Kimia”, tetapi jangan bayangkan peserta sedang mengerjakan rumus di laboratorium.

Di pos ini, lima orang perwakilan dari setiap sangga ditantang untuk mengenali berbagai jenis bumbu dapur hanya dengan menggunakan indera penciuman dan dalam kondisi mata tertutup.

Ekspresi para peserta ketika mencoba menebak bumbu benar-benar menjadi hiburan tersendiri.

Ada yang langsung yakin.

Ada yang ragu-ragu.

Ada juga yang sepertinya sedang berdamai dengan hidungnya sendiri.

  • Pos Tali-Temali

Kalau ada penghargaan untuk pos yang paling menguji kesabaran, mungkin Tali-Temali bisa masuk nominasi.

Peserta harus mempraktikkan berbagai simpul, seperti simpul hidup, simpul pangkal, dan simpul anyam.

Di sinilah jari-jari mulai bekerja keras dan kesabaran mulai diuji.

Tali yang awalnya terlihat biasa saja tiba-tiba terasa seperti punya misi pribadi untuk membuat peserta kebingungan.

  • Pos Yel-Yel

Setelah berjalan cukup jauh dan melewati berbagai tantangan, perjalanan ditutup dengan sesuatu yang menjadi ciri khas kegiatan Pramuka: Yel-Yel!

Setiap regu harus menampilkan yel-yel sekreatif dan sekotak mungkin.

Suara harus lantang, gerakan harus kompak, dan semangat harus tetap menyala meskipun keringat sudah mengalir deras.

Pokoknya, suara peserta sukses mengalahkan rasa lelah.

Capek? Iya.
Seru? Jelas.
Suara habis? Bisa jadi.

Di Balik Keseruan, Ada Kakak-Kakak Hebat

Kesuksesan Perjusa tentu tidak lepas dari peran para panitia serta kakak-kakak Bantara dan Laksana.

Mereka bukan sekadar berdiri di pinggir kegiatan dan memberikan instruksi. Mereka ikut memastikan kegiatan berjalan tertib, mendampingi peserta, menjaga keamanan, memberikan semangat, bahkan ikut larut dalam keseruan ketika suasana mulai terasa melelahkan.

Ketika adik-adiknya mulai lelah, kakak-kakak ini yang kembali menyemangati.

Ketika suasana mulai sepi, mereka ikut membuat suasana hidup.

Bahkan ketika ada sesi joget atau yel-yel, tidak sedikit yang ikut turun tangan.

Kakak-kakak Bantara-Laksana: capeknya mungkin tidak masuk kamera, tetapi jasanya masuk ke cerita.

Dua Hari Satu Malam, Tapi Kenangannya Lama

Sabtu siang, seluruh rangkaian Perjusa akhirnya sampai di penghujung acara. Setelah melakukan operasi semut untuk membersihkan area sekolah dan jalur yang digunakan selama kegiatan, Perjusa SMAN 1 Karangtengah 2026 resmi ditutup.

Dua hari satu malam mungkin terasa singkat.

Namun, dari kegiatan ini ada banyak hal yang dibawa pulang: pengalaman, keberanian, kemandirian, kekompakan, persahabatan, dan tentu saja… foto-foto yang bakal masuk galeri sampai memori HP penuh.

Dari syahdunya api unggun, hebohnya Dance Brazil massal, sampai panas-panasan menyusuri jalur Desa Karangtowo, semuanya menjadi bagian dari cerita Perjusa 2026.

Terima kasih untuk Ibu Erna Setyawati, S.S., M.Pd., seluruh panitia, kakak-kakak Bantara dan Laksana, serta seluruh peserta kelas 10 yang sudah memberikan energi terbaiknya.

Kalian sudah membuktikan bahwa Pramuka bukan cuma tentang seragam cokelat dan kegiatan di lapangan.

Pramuka adalah tentang belajar, bertumbuh, bekerja sama, dan menciptakan cerita yang suatu hari nanti akan dirindukan.

Sampai jumpa di kegiatan Pramuka berikutnya!

Salam Pramuka!

Penulis: Syifa Yuni Damayanti 12.7 (Ketua Jurnalistik dan Litev Pramuka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *